pengap...sesak...!
bau busuk kapitalisme semakin membuat langit ini hitam kelam
bahkan lebih busuk dari bangkai ayam yang kena flu burung samping rumah !
lebih jorok dari segerombolan tikus got di trotoar malioboro...
pening...muak...!
dengan semua aturan kadaluarsa yang keluar dari mulut berbusa berbisa...
demokrasi yang jadi bajunya semakin memperlihatkan compang campingnya ide itu
sekulerisme semakin membuat basi solusi !
goblok...setan alas...!
atas semua orang yang bercokol di bawah naungannya...!
sistem karatan itu udah bikin semua wanita dibiarkan telanjang bulat
bebas untuk mengumbar maksiat!
bullshiit....! bullshiit...!!!!
tai sapi...!!! tai kucing...!!! tai ayam...!!!
pokonya tai untuk semua ideologi buatan manusia...!!!!
by : mukhlash (http://friendster.com/klikbayu) |
|
|
Kumpulan Sajak [Panglima] |
PERJUANGAN TANPA HENTI
Ritangan, Deru, debu
hamparan Kesulitan dan penghalang
Senantiasa mengiringi langkahmu
Ku tahu itu kewajiban
Ku tahu itu keharusan
menghadapi semua keraguandan keputus asaan
Ingatlah!!
Wahai ngkau pejuang tanpa henti
Hidup ini tak lebih dari sebuah perjalanan
Perjalanan menuju kepada-Nya
Engkauukah orang-orang
yangakan melanjutkan kehidupan islam
Di muka bumi ini
Akupun tahu wahai Pejuang tanpa henti
Gerak kita senantiasa diawasioleh singa-singaBuas
Yang Selalu siap Menerkam dan menerjang Kita
Disaat kita lengah
Di saat kita guncang
Wahai pejuang tanpa henti
perjuangan kita belum berakhir
Perjuangan kita tidak akan berakhir
Selama islam Belum mencapai kejayaan
Di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah
Allahu Akbar |
|
Read more...
|
|
|
Berbagi Bosan dengan Senja....... |
Oleh Adieu
Maka sebenarnya waktu hanya mampu mengubah segala sesuatu yang menyentuhnya. Aku hanyalah seseorang yang akan hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak kagum ketika dihadapkan pada sosok sepertimu saat seperti ini. Jauh dari sana, kamu adalah warna lain hidupku
-fat-
Kubiarkan rambut bagian depan menghalangi pandanganku. Perlahan angin menerpanya, helai demi helai. Hingga kadang, aku merasakan terang, redup, dan sekilas bayang yang menari-nari bersama ilalang, dan begitu seterusnya. Asap rokok yang mengepul dari mulutku, sudah tak lagi membulat, tidak sama pada saat mulutku dengan sengaja membentuknya.
Sengaja kulipat celana setengah betis. Aku ingin mencicipi dinginnya air sungai yang jernih ini. Setidaknya tumpukan perasaan dalam diriku bisa ikut menguap ke angkasa..cess dan mungkin mengalir bersama dengan aliran air dari hulu ke hilir, tidak lagi kembali.
Dan sebatang rokok lagi kubakar, kuhisap, dan kunikmati tiap hembusan asapnya bertabrakan di udara, melerai dan seolah tiap retakannya menghancurkan satu per satu beban yang ada dalam ujung kepala. Rumput-rumput basah menguapkan wangi bersama embun yang diangkat mentari. Cericit burung seolah riang berpantun, menyambut bergesernya fase waktu pagi-siang. Dedaunan berkelebat dan sesekali jatuh merangkul tanah dimana akar pohon tertancap kuat di dalamnya. Tanah menyambutnya dengan hangat, dengan pelukan yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Mentari tak mau kalah mempertontonkan kemampuannya. Bulir-bulir sinarnya seakan menghunus permukaan bumi yang ia naungi. Dan alam bersenandung gembira saat harmoni semesta menjadi sebentuk irama merdu yang mengiringinya. |
|
Read more...
|
|
|
Oleh : RebeLiNa RevoLusioNeRita
Cintaku..
Kapan kamu datang?
Sekarang aku bagai layang-layang
Terombang-ambing di langit terang
Dan hatiku jadi tak menentu, sayang..
Duhai pembangkit gairah cinta
Ku ingin kembali merajut kisah dan cerita
Berbagi rasa berbagi tawa
Tuk menguntai jalinan asa
Agar tercapai mimpiku menjadi mutiara
Oh penawar rindu
Bilakah kamu di sisiku?
Membalur pijar hangatmu di ronggaku
Dan berdendang dalam alunan lagumu
Teruntuk Ramadhanku..
Aku kangen kamu
|
|
Resep Airmata
By Nurhadiansyah
Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran continental yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.
Restoran tempat kami mengais rejeki ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pagi, siang, sore, malam, tamu-tamu selalu berdatangan. Mobil-mobil canggih berjajar rapih memenuhi halaman parkir. Setiap hari seluruh table tidak pernah kosong. Setiap tamu yang baru datang diwajibkan untuk mengisi buku waitinglist terlebih dahulu. Kalau tidak, para tamu yang baru datang itu tidak akan pernah mendapatkan tempat. Bisa dibayangkan betapa ramainya restoran ini dan betapa sibuknya para Waiter dan waitress yang bekerja di sini. Mereka, para waiter dan waitress itu, dituntut untuk harus selalu bergerak lincah dari satu meja ke meja yang lain. Harus selalu gesit seperti pelari estafet setiap kali mengantarkan minuman, makanan, dan lain sebagainya seperti tusuk gigi, keju parmesan, asbak, tisu, garam, merica, garpu, sendok, saus sambal botolan, dan bon tagihan kepada setiap pengunjung yang memesan. Harus selalu tersenyum seperti bintang iklan pasta gigi setiap kali bertatap muka dengan para tamu restoran. Tidak peduli betapa hati mereka saat itu sedang sedih, gelisah, marah, terluka—pokoknya harus tersenyum. Titik. |
|
Read more...
|
|
|
|