Home arrow Berita arrow Scene Report Food For Resistance
Scene Report Food For Resistance
 ImageOh Yeah! Dago Kick Ass. Lama tak berkeliaran di seputaran Dago akhirnya Jumat 5 September 2008 kemarin kami bisa bercumbu mesra lagi dengan Dago yang semakin menawan. Bukan maksud kami mengagungkan kerupawanan kapitalisme dalam mempermak Dago. Tapi jujur saja Dago –tepatnya perlimaan Jl. Cikapayang- menjadi lebih cantik sejak ada public space & Art Area. 


Ya, tepat disanalah acara yang kami namakan Food For Resistance berlangsung Jumat petang menjelang buka shaum kemarin.  Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang menyedot habis jatah oksigen kami namun itu semua dapat tergantikan oleh kenyamanan Dago saat itu. Meskipun memang akan lebih baik kalau kendaraan itu jumlahnya lebih sedikit dan beralih pada sepeda roda dua.Suasana ruang publik Dago saat itu cukup ramai. Beberapa kelompok anak muda Bandung banyak yang sedang ngabuburit disana.

Dari komunitas BMX hingga yang sekedar melampiaskan narsisnya dengan berfoto ria pun ada. Plus gelandangan yang menghiasi sudut2 jalan juga bule-bule yang ga mau kalah hilir mudik.
 00++/552.Begitulah memang suasana persimpangan Cikapayang menjelang malam. Terlebih saat itu menjelang buka shaum. Sudah dapat diduga suasana lebih dari yang biasanya. Peluh Pak polisi pun terlihat begitu deras. Mungkin mereka pun sedang melakukan shaum sejak dari dini hari tadi. Two Thumbs up Pak Pol atas kesabarannya!  Tepat ketika jarum jam menunjukan pukul 17.30 WIB, kami mulai bergerak sesuai rencana sebelumnya. Kawan-kawan LY RIP yang lebih kurang berjumlah 10 orang menyebar di beberapa pojok trafic light. Sebagian lagi menyiapkan mie goreng ramuan ajaib di altar perjamuan yang telah kami set bagi siapa pun mereka yang ingin berbuka shaum di pinggir jalan sambil menikmati aroma Karbon Monoksida. Mungkin sebuah alternatif yang bukan untuk dipilih.

Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba kan?
Jujur saja, direct action yang kali ini kami lakukan sebenarnya masih perlu banyak dievalusi. Sebab kami merasa apa yang kami lakukan masih jauh panggang dari api. dari membuktikan bahwa tajil ini dapat memperlihatkan pemerintah negeri ini tidak peduli dengan rakyatnya & masih belum dapat menyegarkan para penikmat tajil agar mereka kuasa untuk berteriak melantangkan makian, pembangkangan serta kemarahan pada Kapitalisme.Namun kekecewaan kami sedikit terobati dengan prosesi acara yang berlangsung dengan asoy geboy. Banyak pihak yang ikut andil bersama dalam acara ini meski mereka tahu ada petuah politis dari leaflet yang kami bagikan bersama dengan tajil yang mereka terima. Polisi, anak jalanan, Freestyler, tunawisma, wartawan, pejalan kaki, dan kawan2 dari Food Not Bomb ikut mencicipi tajil dan mie goreng ajaib kami. Semua duduk bersila di trotoar mengelilingi periuk besar penuh mie goreng.

Yeahhhh.... Maknyosssss  
Setelah menghabisikan sepiring mie dan sebungkus kolak, kami melangsungkan sholat bersama di area publik tersebut. Maklum, masjid yang ada di sekitar sana emang cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Dan memang susah juga kalau harus meninggalkan barang-barang berantakan di pinggir jalan. Akhirnya kami memutuskan sholat disana. Usai sholat dilanjutkan dengan diskusi santai dengan kawan dari Food Not Bomb. Sekedar sharing dan ngobrol ngalor ngidul. Satu dua jam berselang kami tutup obrolan kala itu dengan kesimpulan bahwa melawan pun butuh makan dan makan pun adalah sebuah bentuk perlawanan. Suatu saat –mungkin esok atau entah kapan- perlawanan akan digeruskan dari kondisi tubuh yang tidak disubsidi makanan. Semoga!!!  

Add as favourites (28) | Quote this article on your site | Views: 239 | Print | E-mail

  Comments (1)
RSS comments
 1 Written by musuhkapitalis, on 17-09-2008 01:25
subhanallah.. 
keren euy...

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved