Home
Sastra
Berbagi Bosan dengan Senja.......
Sastra
Berbagi Bosan dengan Senja....... | Berbagi Bosan dengan Senja....... |
|
Oleh Adieu Maka sebenarnya waktu hanya mampu mengubah segala sesuatu yang menyentuhnya. Aku hanyalah seseorang yang akan hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak kagum ketika dihadapkan pada sosok sepertimu saat seperti ini. Jauh dari sana, kamu adalah warna lain hidupku -fat- Kubiarkan rambut bagian depan menghalangi pandanganku. Perlahan angin menerpanya, helai demi helai. Hingga kadang, aku merasakan terang, redup, dan sekilas bayang yang menari-nari bersama ilalang, dan begitu seterusnya. Asap rokok yang mengepul dari mulutku, sudah tak lagi membulat, tidak sama pada saat mulutku dengan sengaja membentuknya. Sengaja kulipat celana setengah betis. Aku ingin mencicipi dinginnya air sungai yang jernih ini. Setidaknya tumpukan perasaan dalam diriku bisa ikut menguap ke angkasa..cess dan mungkin mengalir bersama dengan aliran air dari hulu ke hilir, tidak lagi kembali. Dan sebatang rokok lagi kubakar, kuhisap, dan kunikmati tiap hembusan asapnya bertabrakan di udara, melerai dan seolah tiap retakannya menghancurkan satu per satu beban yang ada dalam ujung kepala. Rumput-rumput basah menguapkan wangi bersama embun yang diangkat mentari. Cericit burung seolah riang berpantun, menyambut bergesernya fase waktu pagi-siang. Dedaunan berkelebat dan sesekali jatuh merangkul tanah dimana akar pohon tertancap kuat di dalamnya. Tanah menyambutnya dengan hangat, dengan pelukan yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Mentari tak mau kalah mempertontonkan kemampuannya. Bulir-bulir sinarnya seakan menghunus permukaan bumi yang ia naungi. Dan alam bersenandung gembira saat harmoni semesta menjadi sebentuk irama merdu yang mengiringinya. Aku tersenyum. Apakah alam mampu membaca gundah yang mengendap-endap dalam setiap makna yang kurajut lewat tatapan mata yang kosong ini? Apakah mereka, air-air itu, burung-burung itu, daun-daun itu, tanah-tanah itu, sinar mentari itu mengetahui gelisah yang mengalun bersama setiap desah nafasku? Ah, aku tak begitu yakin. Aku hanya yakin bahwa tempat ini setidaknya bisa mengamankanku beberapa saat dari hiruk-pikuk dunia yang teramat sangat membosankan. Aku yakin tempat ini setidaknya menjadikanku mampu meramu serangkaian gundah menjadi titian neumena, berasyik-masyuk dengan sesuatu yang tidak biasa dipikirkan dalam kondisi yang lain, menjadi ada dalam ketiadaan. Semoga. Karena aku sangat mencintai alam ini, mencintainya seperti mencintai ibu dan bapak yang telah lama tiada. Seperti asap rokok, begitulah kira-kira hidupku sekarang. Saat asap itu terbang, menjauh dari mulut dan hidung, pada saat itu pula ia akan menyapa udara, berjabat tangan, bercengkrama, dan melupakan bentuknya yang telah kucetak dengan mulutku. Semua yang telah kurencanakan tidak lebih dari sekedar keindahan ikhtiar pada awalnya saja. Setelah itu, aku terhempas kembali ke dalam dunia yang menurutku penuh pengasingan. Aku bosan. Sepertinya hidup tak lagi nyaman untuk kutinggali. Mungkinkah aku harus segera beranjak dan meninggalkan planet ini? Lebih dari itu, meninggalkan hidup ini? Kebosanan seperti badai yang menyapu semuanya, seperti api yang melahap semuanya. Tidak ada sisa, kecuali satu keinginan untuk mati. Ufhhh, apakah orang lain mengalami hal yang sama? Mungkinkah aku yang membuat hidupku terlalu rumit untuk disinggahi kenikmatan? Lagi-lagi aku tak tahu. Aku tak peduli. Aku hanya ingin mati saat ini. Sejenak ingatanku mengunjungi suatu saat dimana seorang kawan terduduk di atas batu yang ada di sela aliran sungai itu, batu yang saat ini ada tepat di hadapanku. Kakinya terjuntai ke bawah. Setengah rok yang ia kenakan basah terembesi kapilaritas air sungai yang mengenai ujung kaus kakinya. Kerudung panjangnya berkelebat diterpa angin. Matanya menatap tajam ke depan, searah arus sungai, menuju ke sebuah titik ujung pandangan. Sesekali tangannya menyiuk air sungai, mengusapkannya ke muka, dan sesekali pula membenarkan letak kerudung yang menutupi kepalanya. Seperti biasa, mulutku terlalu kesat untuk tidak menghisap rokok, mengamatinya diam-diam, saat ia lengah. Tiba-tiba suaranya memecah kebisuan. "Pernahkah kamu memikirkan tentang kematian, Kristal?" Dahiku mengkerut, berlipat. Aneh, kenapa pertanyaan itu terpikirkan olehnya? Dia menatapku, menunggu jawaban segera meluncur dari mulutku yang berasap. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia kembali mengalihkan pandangan seperti semula dan melanjutkan pembicaraannya. "Kematian memang tak pernah menyuruh kita untuk repot-repot memikirkannya. Jika sudah saatnya, ia akan datang dengan suka rela, tanpa perlu dipaksa, dan tanpa perlu diberi imbalan." Aku masih saja memandangnya sambil sesekali menyembulkan asap rokok ke angkasa yang basah oleh loncatan air sungai bertabrakan dengan batu mematung. Monolog tentang mengapa pertanyaan konyol itu bisa muncul dalam benaknya, masih saja menyertai. "Seandainya Tuhan memberi tahu kepada semua ciptaan-Nya tentang kapan jadwal akhir kehidupannya, aku tak yakin masih bisa duduk di sini dan mungkin saja aku tak akan pernah mengenalmu, Kristal." Aku tersenyum mengamati bibirnya seolah terkembang diterpa angin. "Orang-orang akan kelimpungan. Berlari dengan bekal rasa takut dan melupakan hakikat hidup mereka sebelumnya. Jangankan untuk merekahkan senyuman, saling bersinggungan saja, manusia tak mau peduli. Dan aku yakin, upaya untuk saling mematikan pun bukan hal yang aneh. Spesies manusia akan terancam, dan mungkin saja kiamat datang lebih awal. Dan aku tak mungkin bisa berbicara seperti ini, dengan hampir segenap yakin bahwa itu memang benar-benar terjadi." Ia menuruni batu tempat ia terduduk sebelumnya, setengah kakinya terendam air sungai dengan riak beriringan. Terlihat roknya yang lebar terhuyung-huyung mengikuti arus sungai itu berlari. Segera kucabut batang rokok dari mulutku, menghembuskan asap terakhir, dan menghampirinya yang kesulitan melangkah. Kuulurkan tanganku ke arahnya. Ia hanya tersenyum dan menolak bantuanku. Langkahnya dipermainkan arus air dan bebatuan yang berlumut di bawah sana. Seandainya ia juga tahu bahwa aku sedang menikmati ketidaktenangan di sini, dengan senyum yang terlalu kupaksa, dengan diam yang tak pernah kuinginkan. Ingin rasanya aku berteriak tepat di samping telinganya, biarkan aku menjadi kakimu, yang membantumu melangkah jika kau ingin melangkah. Ah, aku tak kuasa. Suaraku tercekat. "Hey!! Kamu melamun?" Dia sudah ada di sampingku. Tangannya yang lembut meraihku. Lagi-lagi, aku hanya mencukupkan jawabanku dengan tersenyum. Kulihat seluruh tubuhnya basah. Sepertinya tadi ia terjatuh. Badannya menggigil. Mukanya memucat berusaha ia sembunyikan lewat senyum yang tak pernah tampak tidak merekah. Ada sebuah pohon yang rindang di sana. Aku memapahnya perlahan menuju belukar besar yang menampakkan dirinya dari dalam tanah ke permukaan. Ia melepaskan papahanku, berjalan perlahan, dan menyandarkan tubuhnya yang basah di belukar. Matanya terpejam. Aku ingin bertanya ada apa dengannya, tapi selalu saja suaraku membeku di ujung lidah, terputus saat mulutku mulai menganga. "Pakailah ini, semoga aku bisa membantu meringankan apapun yang sedang kau rasakan", kataku dalam hati sambil menyelimutinya dengan jaket lusuh yang kupakai sebelumnya. Matanya kembali membuka. Tiba-tiba ia tertawa sambil memandangku. "Bagaimana jika kematian menghampiriku saat menyebrang sungai tadi? Atau bahkan bagaimana jika kepulan terakhir asap rokokmu itu adalah juga hembusan terakhirmu?" Masalah itu lagi. Kenapa melulu kematian yang selalu dia bicarakan padaku? "Kristal, pernahkah kau memikirkan kematian?" Raut mukanya berubah. Segumpal sesak seakan hampir meledak dan membuat kulit mukanya memerah. Seperti hendak memaksaku segera mengeluarkan suara, menjawab sebuah tanya besar yang entahlah apakah serius atau ingin mengujiku saja. Aku harus bagaimana. Suaraku masih saja tercekat. Aku ingin berkata bahwa aku bukan orang yang sedang ingin memikirkan kematian. Yang aku tahu, aku hanya ingin hidup, menikmati sinar mentari yang hangat, wangi embun yang menempel pada ujung rumput, kecipak air sungai yang bertabrakan dengan bebatuan, cericit burung-burung kecil di dahan pohon, bersamanya dengan juga beberapa batang rokok. Hanya itu ... "Kematian memang tidak pernah meminta untuk kita pikirkan. Tapi tak jarang diri kita larut, seolah berdiskusi dengannya. Akan ada yang ketakutan dan ada pula yang membusungkan dada untuk menantangnya." ... Gedebuk... Suara benda jatuh, membuyarkan semua ingatan yang kurangkai. Sepertinya satu benda keras telah menyentuh permukaan tanah. Beberapa meter dari pohon tempat tubuhku bersandar, sebuah pohon kelapa menggugurkan satu daunnya. Bersama itu, beberapa butir buah kelapa ikut terbawa jatuh. Kualihkan kembali pandangan yang tadi sudah terenggut ke arah sungai yang membuat ingatanku melayang. Senja, nama temanku itu, kini sudah menggapai tempat terindahnya. Ia sudah menemukan impiannya, keluar dari segala macam kekacauan yang pada akhirnya membuat dunia tidak lagi indah untuk ditinggali. Senjaku memang tak pernah mengeluh tentang hidup. Dari segi materi, ia dapat semuanya. Begitu pun dengan cinta dan kasih sayang. Ia hidup dalam kesempurnaan, nyaris tanpa kurang sedikit pun. Siapa menyangka, kematian merenggutnya dariku begitu cepat. Dan saat itu, saat dia memaksaku membicarakan kematian, adalah kesempatan terakhirnya bercumbu dengan hidup, dengan sungai, dengan cericit burung, dengan dedaunan yang gugur, dengan angin yang melasak pelan lewat celah-celah kain, dengan bilur-bilur sinar sang surya, dengan embun pada ujung-ujung dedaunan, dengan wangi tanah dan rumput yang disunting udara, dan dengan asap rokok yang hampir tak pernah berhenti mengepul dari mulutku. Bianglala Senja tidak mampu lagi bertahan untuk hidupnya karena sang ajal datang dengan perawakan paling perkasa. Ia pernah meyakinkanku suatu hari, bahwa kematian pun bisa jadi kebahagiaan lain bagi mereka yang hidup. Aku sempat menggumam tanya untuk pernyataan itu. Dan kematiannya seolah diutus untuk memberi jawab. Senja pergi meninggalkanku dengan tersenyum setelah begitu lama ia berjibaku dengan kanker yang tumbuh dalam tubuhnya. Sungguh, aku tak pernah menyangka. Senja tidak pernah mengeluhkan sakit itu. Ia juga menyembunyikan kegundahan atas prediksi waktu yang tidak lama. Pertanyaan-pertanyaan kematian seakan ia jadikan pelarian, atau mungkin sebagai peringatan bagi mereka yang bertahan. Dan kini, alasan itu pula yang menggangguku. Menyita seluruh perhatian dari hidup yang menurut kebanyakan orang teramat menarik. Menarik dari sisi mana? Hidup saat ini memang sudah menyulap semua hal jadi instan. Bagaimana segalanya didapat dengan cepat, mudah, tanpa harus berpeluh-peluh. Hanya satu yang tidak ditemukan di sana, tentang bahagia dan mungkin bosan. Jika pun kebahagiaan itu ada, maka ia hanyalah satu momen paling ringkas. Kepergian Senja telah membuat hidupku kering. Ia meninggalkan gersang dalam jiwaku yang memang sudah mengerak hitam oleh asap rokok yang tak pernah terlewat kuhirup dan kutiupkan. Dan seandainya ia ada di sini, mungkin aku tak akan menarik kesimpulan bahwa dunia ini hanya dipenuhi oleh orang-orang yang terlalu sibuk mempertontonkan hidupnya sehingga tak sedikit pun mereka mengerti mengapa bagiku hidup sangat membosankan saat ini. Hari-hari kujalani bagai neraka. Aku ingin mati saja. Barangkali aku akan bisa menemukan kawanku itu di sana. Mungkin ia telah duduk menikmati dimensi lain sebuah kebahagiaan. Aku bisa kembali menyalakan rokok, menikmati bilur-bilur sinar yang menyampaikan salam dari matahari, mendengar merdu burung-burung bernyanyi, membaui basah rerumputan, dan terutama melihat Senja yang selalu bermasyuk dengan air sungai sembari mengembangkan senyumnya. ... "Bagaimana kamu bisa tahu bahwa kematian akan membebaskanmu dari rasa bosan yang tampak seperti neraka bagimu, Kristal, sedang kamu tidak pernah mencicipi kematian sekali pun? Bisakah kamu membayangkan bahwa bila saatnya nanti kamu merasakan dalam dunia kematian tidak ada yang lebih baik, kamu tak bisa meminta Tuhan mencabut kematian dan memberimu surat pembebasan untuk kembali menjalani hidup? Mustahil, Kristal!!!" Uhuk...uhuk... aku tersedak asap rokok. Suara itu, suara itu merenggut ekstase lamunanku. Jelas sekali itu suara Bianglala Senja. Datang dari mana suara itu? Pandanganku berkeliling berusaha mencari sumber suara itu muncul. "Aku tahu dalam kepalamu kini tengah bergolak keinginan untuk mati saja. Aku pun sangat bisa memahami bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang ingin kamu cari. Tapi tidakkah kamu berpikir untuk bertahan, melawan, dan memahami hidup? Tidakkah kamu berterima kasih pada bosan, Kristal? Bukankah bosan itu yang telah mendorongmu pada akhirnya memaknai dan mencari bahagia? Tidakkah kamu berterima kasih pada bosan?" Aku hanya bisa merenda sunyi dalam diam setelah dengan sengaja rokok yang belum terlalu banyak terbakar itu kumatikan. Dan tiba saatnya mulutku hampir mengeluarkan suara, Senja kembali berbicara. "Tidakkah juga kamu berpikir bahwa tanpa kamu mengejarnya pun, kematian tidak akan pernah lengah mendampingimu? Dan bila saatnya tiba nanti, ia akan dengan suka rela menikammu dan membawamu pada suatu tempat yang menurutmu adalah dimensi lain kebahagiaan itu. Dan saat itu pula kamu bisa membuktikan apakah benar kebahagiaan ada setelah kematian? Semua tergantung padamu. Semua bergantung pada sejauh mana kamu bisa bertahan untuk hidup, memaknai setiap jengkal langkah yang telah kamu tempuh selama hidup, lalu memahami langkah selanjutnya yang akan kamu tempuh, Kristal. Dan... berterima kasihlah pada bosan!!!" Suara itu makin lama makin sayup terdengar, seperti makin menjauh. Dan pada akhirnya tidak lagi terdengar apapun selain jeritan jangkrik dan desiran angin. Bersamaan dengan itu, perlahan gelap melahap senja, mentari sedikit demi sedikit menggelincir menuju tempat persemayamannya yang entah dimana. Senjaku hilang dan...... ... Terima kasih bosan, karena telah membuatku bertahan hidup hingga saat ini, bersama segalanya, membawa semuanya*.[] Adieu * dikutip dari sebuah pesan yang saya terima dari seorang teman yang sama sekali tidak saya tahu. Terima kasih atas inspirasimu, kawan. |





