|
Oleh. Bahrun Mungkin, bagi anda tidak akan pernah mengira, bencana banjir membawa nikmat dan hikmah yang begitu dalam. Tidak sedalam air yang tergenang, ataupun sedalam trauma saja tiap kali melihat air dan hujan turun. ‘Hikmah' Revolusi dari pelajaran banjir sesuatu yang pasti, sepasti revolusi itu sendiri. Yap, itulah yang eike rasakan ketika menghadapi musibah banjir di Kota Solo dan sekitarnya pada Selasa Malam (atau Rabu dinihari) 24 - 29 Desember 2007 lalu. Sesuatu yang cukup berharga untuk memulai revolusi 2008 yang kita nantikan. Perlu diketahui, bencana banjir yang menimpa Kota Solo dan sekitarnya terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah naiknya air sungai bengawan Solo dan anak sungainya karena hujan yang mengguyur selasa Sore hingga tengah malam pada tanggal 24 Desember 2007. Sehingga pada Rabu pagi air telah tergenang, dan memaksa warga mengungsi dan mendirikan dapur umum. Kemudian, kejadian kedua ketika eike sedang tidur dibangunin oleh kawan wartawan dan ternyata air sudah meluap hingga telah masuk ke jalan. Juga, dua tanggul yang seharusnya mampu mencegah meluapnya sunga bengawan solo yang akhirnya jebol. Perlu diketahui juga, Struktur geografis rangkaian tanggul tersebut adalah rangkaian tanggul pertama berada di kawasan Kampung Sewu, dan yang kedua berada di sangkrah hingga Semanggi. Diantara rangkaian tanggul pertama dan kedua, terdapat pintu air kota Solo, kalau jebol berarti kota Solo tenggelam. Okeylah.... ada pelajaran yang patut kita sebarkan kepada kawan-kawan dari peristiwa banjir ini.
1. Tanggap Hal pertama yang harus dilakukan adalah tanggap. Bencana banjir yang datang tiba-tiba tidak mungkin direncanakan, direncanakan pun toh tiap kejadian dan peristiwa menjadikan kita harus tanggap dan sigap untuk melakukan sesuatu dan memikirkan mekanisme evakuasi warga dan keluarga dalam waktu yang relatif singkat. Demikian pula revolusi, revolusi terjadi tiba-tiba ketika terdapat isu yang mengguncang dan menjadi bola salju opini untuk menghajar rezim maupun sistem. Prosedur 'penggelembungan' opini diperlukan untuk tetap meraih tujuan untuk revolusi itu sendiri. Termasuk penyusunan penggelembungan opini demi meraih revolusi. Setiap isu dan kejadian dapat dijadikan sebagai bola liar untuk dilemparkan sehingga menjadi bola salju. 2. Mengenal Lapangan Sebelum tanggap, informasi tentang lapangan harus telah sampai sebagai bahan penyusunan prosedur evakuasi warga. Misal bila air baru mencapai mata kaki, mekanisme tersebut tentu berbeda bila air tersebut telah sampai ke lutut. Demikian pula bila air telah sampai ke perut. Mempelajari lapangan diperlukan untuk memikirkan datangnya air (dan alirannya), dan bagaimana arah dan tujuan evakuasi warga ke tempat-tempat yang telah ditentukan. Berbeda, bila air telah sampai ke perut, biasanya air sungai yang meluap telah menjadi arus utama, dan terlebih lagi menumpuknya sampah sehingga kemungkinan jebolnya pintu air sangat mungkin terjadi. Sampah memperparah banjir, sehingga meskipun telah reda (memasuki hari Ahad 30 Desember 2007), siaga satu belum dicabut, dan kawan-kawan TNI masih tetap bertahan untuk mengawasi pintu air tersebut. Dalam revolusi, mempelajari lapangan, kondisi sosiologis, antropologis, dan historis diperlukan untuk mempelajari pola pikir dan kondisi yang dirasakan dan difahami masyarakat. Revolusi pun harus mempelajari setiap kondisi dan kemampuan informasi untuk menggelembungkan bola salju tersebut. Dalam revolusipun, informasi yang sekecil apapun berpotensi menghasilkan isu opini yang akan membesar ataupun membesarkan isu utama. Jangan sampai, ketika revolusi terjadi terdapat dua isu yang sama-sama besar yang akan mengkaburkan opini dan pemahaman masyarakat akan revolusi itu sendiri. Rezim pasti akan senantiasa 'membuat' isu tandingan untuk mengalihkan perhatian terhadap isu utama, sehingga bahan bakar revolusi akan cepat habis, dan kekuatan rakyat akan tergembosi dengan segera. Perpindahan wilayah, praktis akan membuat revolusi baik secara internal maupun kelompok dipikirkan ulang dan direncanakan ulang. Hal ini tidak akan efektif dan tidak akan meraih kepemimpinan ummat dan merancang putusnya kepercayaan rakyat terhadap rezim. 3. Prosedur Survival (bertahan hidup) Mengenal prosedur survival dalam peristiwa banjir ini disusun untuk tahap tahap evakuasi ketika air terus beranjak naik. Bagaimana keputusan warga korban banjir dibuat untuk kembali ke rumah ataupun bertahan di tenda pengungsian. Pada peristiwa ini, pada banjir pertama warga korban banjir terlalu cepat memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing setelah surutnya air sungai. Namun ternyata hujan kedua yang menerpa kawasan Solo sekitarnya memaksa mereka untuk kembali mengungsi dalam kondisi yang serba terbatas, bahkan sebagian besar hanya membawa baju yang melekat di badan. Prosedur ini juga diperlukan, untuk membedakan korban banjir manula, dewasa, anak-anak, maupun pria dewasa. Prosedur evakuasipun disusun, sehingga ketika anak-anak dan bayi berada dikawasan pengungsian mereka tidak cepat tertular penyakit yang sama akibat penyebaran bakteri di satu wilayah, maupun tingkat stress yang tinggi. Prosedur ini juga memaksa mengontak beberapa kekuatan taktis yang diterjunkan di kawasan banjir untuk siap sedia bila kita menginstrusikan evakuasi dalam waktu secepat-cepatnya. Revolusi juga memerlukan standard dan prosedur survival (bertahan hidup) untuk memastikan revolusi tetap berjalan dan tidak membahayakan subyek pelaku revolusi. Matinya pelaku revolusi sedikit banyak pasti akan membawa perubahan besar dari arah revolusi yang ditujukan. Revolusi juga memaksa pelaku untuk mengontak kekuatan taktis (ahlul quwwah) sebagai penolong dan kekuatan taktis sesuai instruksi tahapan revolusi yang kita jalankan. Meskipun revolusi bersifat cepat, namun tahapan ini diperlukan untuk penyusunan opini yang matang dalam rangka penggulingan rezim dan sistem. 4. Meredam isu negatif Banyak isu negatif berkembang selama banjir menggenang kota Solo sekitarnya, diantaranya adalah kemungkinan akan ditenggelamkannya kota Solo, bila aliran air dari bengawan Solo masih relatif besar sehingga pemerintah akan membuka pintu air sehingga kota akan tergenang air Bengawan Solo, dan aliran air anak sungai bengawan Solo. Tentu hal ini, secara cerdas tidak akan pernah terjadi. Kawasan pintu air ini, berjarak kurang dari 1 km dari kawasan tengah kota (gladag, alun alun, pasar klewer), dan pasti solo akan tergenang seperti banjir yang terjadi pada tahun 1965. Rekan-rekan wartawan pun memiliki beberapa data kemungkinan bencana ini telah disetting sehingga pemerintahpun membuka pintu air waduk gajah mungkur (hulu sungai bengawan solo) karena kedatangan Presiden SBY dalam rangka peresmian Pusat Pengembangan Pantai Pacitan pada hari Sabtu 29 Desember 2007. Perlu diketahui juga, bahwa akses masuk kota Pacitan adalah Kota Wonogiri (dan justru bukan jawa Timur), namun masuknya kota Wonogiri bisa melalui kota Ponogoro - Jawa Timur, maupun Yogyakarta dan Klaten, serta Solo sendiri. Pada saat banjir pertama menerpa Kota Solo, salah satu jembatan utama yang berada di kaki waduk gajah mungkur yang berada di wilayah Baturetno (adalah akses utama dari Wonogiri Kota menuju Kota Pacitan) bergeser karena meluapnya air dan sedimentasi waduk yang parah. Bila air tidak segera dikurangi dari waduk dimungkinkan jembatan tersebut akan ambrol, dan jadwal kunjungan beliau yang mulia SBY akan batal. Dalam revolusi, isu-isu inilah yang harus dipetakan sebagai isu yang mendukung proses revolusi atau akan menghambat revolusi terjadi. Mau tidak mau banyaknya data dan informasi diperlukan untuk mensetting. Dan juga kemampuan komunikasi yang matang untuk menyampaikan informasi tersebut kepada rakyat yang akan mendukung terjadinya revolusi. Bila mana ini tidak dilakukan, segala informasi dan data tidak akan berfungsi apa-apa. Nilai yang terkandung dalam masing-masing informasipun tidak akan mampu membawa perubahan apapun ditengah masyarakat. 5. Berpikir cepat Tanggap tidak selamanya berpikir cepat, dan berpikir cepat memiliki perbedaan dari tanggap. Berpikir cepat dalam peristiwa banjir Kota Solo, juga diperlukan untuk mengumpulkan data dan mengakses data-data dan informasi sehingga sebagai bahan keputusan yang akan diambil. Pada banjir kedua dan yang terbesar, keputusan berpikir cepat diambil karena kenaikan air lebih dari 1 meter terjadi dalam kurung waktu kurang dari satu jam. Berbeda dengan banjir pertama yang terjadi sehari penuh, dan kenaikan air berjalan secara pelan. Keputusan ini juga didukung oleh kondisi hujan yang masih mengguyur Kota Solo dan sekitarnya pada saat itu. Dan kondisi fisik dari pengungsi yang telah terkuras tenaganya pada saat banjir pertama. Keputusan juga diambil karena banyaknya warga yang perlu dievakuasi bila warga masih berkeinginan tetap bertahan dirumah mereka masing-masing. Sulitnya akses masuk baik menggunakan perahu karet sar, maupun tingginya air tidak akan mungkin bisa menyelamatkan seluruh warga bila air semakin meninggi. Dalam bencana banjir ini, kita juga telah menetapkan beberapa prosedur hingga prosedur dalam kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, yaitu jebolnya pintu air sangkrah tersebut. Cara berpikir cepat inilah yang diperlukan untuk membuat keputusan revolusi dan tahapan revolusi. Meskipun keputusan itulah berpikir cepat sendiri. Bagaimana kita harus menggunakan sel-sel revolusi yang telah ditanam, sehingga akan digerakkan secara bertahap, agar kekuatan revolusi yang dirancang benar-benar akan bertahan secara kuat dan lama. Opini yang dikembangkanpun akan segera memanas. Pengaktifan sel-sel revolusi yang telah disusun oleh seorang revolter pun dilakukan secara bertahap, sehingga bila sel-sel yang belum diaktifkan mampu mempersiapkan segala sesuatunya, bilamana sel-sel yang telah aktif 'gagal' dalam menjalankan tahapan revolusi yang kita atur. Berpikir cepat juga diperlukan untuk mengatur emosi dan berpikir jernih dalam setiap keputusan yang hendak diambil. Kemungkinan-kemungkinan terburuk pun telah kita siapkan, meskipun langkah-langkah baru diambil (tidak dengan gegabah) bila langkah tahapan revolusi berjalan aktif. Kini meskipun bencana banjir di Kota Solo dan sekitarnya relatif tetap reda, hingga tulisan ini dibuat, ketinggian air di kali bengawan Solo masih tinggi. Termasuk ketinggian air di beberapa anak sungai bengawan solo. Juga beberapa daerah masih terendam air, dan potensi banjir yang lebih luas masih bisa terjadi. Beberapa penyebab adalah : 1. Struktur aliran air yang tidak hanya berasal dari waduk gajah mungkur saja, namun juga aliran dari barat (boyolali, dan sekitarnya) memicu potensi banjir. Karena muara anak-anak sungai bengawan beberapa hulunya berada di daerah tersebut. Dan bila pintu air ditutup, maka genangan tetap akan terjadi. 2. Sampah yang menggunung yang belum diangkut pasca banjir pertama (hari rabu), hingga sekarang menumpuk dan menimbulkan potensi jebolnya pintu air sangkrah. Mengingat pintu air ini merupakan pintu air utama Kota Solo. Beberapa item barang yang masih dibutuhkan adalah : 1. Alat komunikasi untuk pemantauan aliran air dari arah selatan (waduk gajah mungkur wonogiri), dan dari arah barat (boyolali, dsb) terhubung dengan pintu air utama sangkrah. 2. Kebutuhan alat-alat pembersih. 3. Trauma healing, dan mental recovery (buku bacaan anak, peralatan sholat, dsb) yang bersifat menghibur. 4. Kebutuhan alat-alat evakuasi (lampu badai, generator, perahu karet kecil, senter, dsb) untuk banjir susulan yang berpotensi terjadi. Untuk bantuan silahkan salurkan ke no. rekening : 327 024 9239 Bank BCA an. Muh Bahrunna'im. Atau telpon 0888 294 2005 untuk bantuan yang bersifat barang. Add as favourites (28) | Quote this article on your site | Views: 537 | Print | E-mail
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |