Home
Artikel
AMBIGU
Artikel
AMBIGU | AMBIGU |
|
By Ilyas. Pispot Community
![]() Semua teman sekelasku tertawa aku berkata “Saya punya ayam kalo kamu kerumah saya nanti saya potong.” Kejadian ini terjadi pada saat jam pelajaran bahasa indonesia pada minggu yang lalu. Sebelumnya, ibu guru meminta kami memberikan contoh sebuah kalimat yang memiliki lebih dari satu makna/arti dan cenderung membingungkan. Aku dengan tak ragu mengacungkan tangan dan memberikan contoh kalimat itu. Aku pun ikut tertawa saat semua teman-temanku tertawa. Maksud yang “saya potong” dari kalimat itu memang miliki dua arti. Pertama, ialah “kamu” (orang yang saya ajak bicara) yang akan saya potong. Kedua, “ayam” yang ada di rumah saya. Multitafsir dari sebuah kalimat memang bisa terjadi dalam setiap tata bahasa negara manapun. Baik bahasa lisan atau pun tulisan. Hal ini seperti inilah yang menuntut kita untuk mampu memahami ilmu tata bahasa. Dalam ruang lingkup bahasa Indonesia, kita memang dituntut untuk menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), buka Ejaan Yang Diinginkan. Apalagi kita selalu seorang muslim yang berkecimpung dalam sebuah aktifitas yang mau tidak mau harus berurusan dengan berbagai media, yang tentunya menuntut kita untuk berbahasa, baik lisan atau pun tulisan. Jangan sampai maksud utama yang ingin kita sampaikan ke masyarakat malah diterima masyarakat dengan penafsiran yang melenceng dari yang kita inginkan, gara-gara kita tidak memahami tata bahasa yang baik dan benar. Perbedaan pemaknaan ini juga terjadi bukan hanya pada sebuah kalimat saja, namun terjadi juga pemaknaan yang beragam pada sebuah kata, misalkan “kebahagiaan”. Kehagiaan terkadang dimaknai berbeda oleh setiap orang. Namun perbedaan ini berbeda dengan perbedaan pemaknaan kalimat di atas. Perbedaan pemaknaan kalimat di atas didasarkan pada bagaimana pengucapan kalimat tersebut juga kemampuan berfikir orang yang mendengar atau membacanya. Namun perbedaan memaknai kata “kebahagian” disandarkan pada pandangan hidup setiap orang. Orang-orang sering berargumen bahwa makna dari kata “cantik” itu relative, artinya setiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda. Hal ini karena setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Contoh lainya seperti pemaknaan kata “porno.” Akibat orang-orang beragumen bahwa pemaknaan porno itu relative, DPR terus menunda-nunda pengesahan RUUAPP, yang akhirnya UU itu melenceng dari nilai-nilai awalnya. Pandangan seorang muslim dan seorang sekuleris tentang “cantik” dan “porno” pastilah sangaat jauh berbeda. Hal ini dikarena pandangan hidup mereka yang berbeda. Mungkin seorang sekuleris menganggap poto-poto bugil yang terpampang dalam majalah PlayBoy tidaklah porno. Tapi seorang muslim bisa-bisa muntah karena melihat gambar itu. Bagi seorang muslim, tentunya wanita yang cantik adalah yang beriman dan menutup seluruh auratnya. Berbeda makna cantik bagi seorang yang sekuler. Begitu juga dengan “kebahagiaan” dan “kebebasan”. Berbeda pandangan hidup, maka makna kebahagiaan dan kebebasan bagi orang tersebut pasti berbeda. Kita juga sering menggunakan kata-kata yang terkadang membuat orang-orang yang berbeda pandangan hidup kita mengerutkan dahinya. Seperti kata “pemberontakan” atau “perlawanan”. Seolah-olah kita dianggap seorang yang akan membuat kekacauan dan pengrusakan. Padahal kita maksud dari kata-kata tersebut sesungguhnya sebuah kebaikan. Pandangan berbeda dari masyarakatlah yang membuat kata-kata tersebut seolah-olah negatif. Meskipun kita memang tidak suka bermanis muka atas kerusakan yang saat ini terjadi, namun terkadang kita harus berusaha bertutur kata dengan bahasa-bahasa “diplomatis”, agar masyarakat tidak menjadi kaget dan mereka memiliki penafsiran berbeda dengan kita. Karena tidak semua masyarakat mengerti. Jangan sampai mereka malah jadi menajauhi kita gara-gara kita berbahasa dengan begitu lugas. Namun, kita harus senantiasa berhati-hati, jangan sampai sifat “diplomatis” kita ini justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang sengaja ingin menjerumuskan kita. Misalkan ketika anda ada disebuah forum umum dan anda ditanya oleh pembawa acara “Apakah anda akan menghapuskan pancasila?” meskipun anda sadar hal tersebut memang akan anda lakukan, tentunya anda akan menggunakan bahasa diplomatis karena anda sadar yang anda hadapi di forum umum tersebut adalah masyarakat awam yang tidak sepengertian dengan anda. Jika anda secara tegas mengatakan “Ya”, mungkin ada bisa-bisa diusir dari forum itu, karena mungkin bagi masyarakat pancasila adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertahankan sebagai asas bangsa. Misalkan juga jika anda ditanya “Mungkinkah kelompok/partai anda bergabung dengan pemerintahan atau parlemen?” bahasa diplomatis yang mungkin anda gunakan untuk menjawab hal itu adalah “Ya” atau “mungkin”. Namun jangan lupa juga dijelaskan maksud yang tersirat dari jawaban anda itu. Jangan sampai jawaban anda itu digunakan moderator-yang mungkin menseting acara itu secara khusus-untuk menjerumuskan anda. Membuat anda seolah-olah mau berkompromi dengan sistem yang ada. Maka berhati-hatilah. Karena semua ini bisa saja dan mungkin juga sudah terjadi. Anda harus memberikan penjelasan lanjutan kenapa anda menjawab seperti itu. Jika moderator tidak memberikan kesempatan dan malah menyimpulkan dengan seenaknya, maka paksakan untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya. Agar tidak ada penafsiran yang salah. Tentunya sebuah pandangan hidup memang merupakan hal pokok yang harus kita tanamkan kepada masyarakat kita. Karena inilah dasar dari segala apa yang manusia perbuat, baik perbuatan fisik ataupun perbuatan non fisik. Ketika ada sebuah ambigu, maka masyarakat mampu menerimanya sebagaimana yang kita inginkan dengan definisi yang benar. Kita perlu bersifat diplomatis, tapi kita harus berhati-hati. Permainan bahasa memanglah sesuatu yang biasa dalam sebuah aktifitas perubahan. Karena yang kita lakukan propaganda dengan media. Barang siapa mengusai media, berarti ia menguasai dunia. Add as favourites (20) | Quote this article on your site | Views: 882 | Print | E-mail
Only registered users can write comments. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||



Be first to comment this article






